Setelah Maghrib usai, sayup-sayup terdengar pengumuman dalam Bahasa Aceh yang kurang lebih artinya, ”Ayo, warga kampong Cot Seurani (sebuah desa kecil di kecamatan kecil Krueng Mane, NAD), kumpul di Meunasah (semacam Mushala) setelah Isya, ada yang penting untuk dibicarakan.”

Waktu berjalan. Isya baru saja lewat. Suara itu terdengar lagi, tapi lebih keras dan tegas, masih dalam Bahasa Aceh, yang kalau diterjemahkan menjadi, ”Hai warga kampong, ini sudah lewat Isya. Cepat kumpul!”

Sekitar 30 menit kemudian, berkumpullah sekitar 50 orang laki-laki yang mewakili keluarganya di Meunasah. Teuku Imum* angkat bicara. Kalau di-translate lalu dirangkum dalam Bahasa Indonesia menjadi, ”Akhir-akhir ini, orang yang datang ke masjid semakin berkurang. Sekarang saja yang datang Cuma sekitar 50, seharusnya 200 (ada sekitar 200 KK di desa Cot Seurani). Kekuatan islam ada di jama’ah sekalian. Kalau kita tidak bersatu, apa lagi yang bisa diandalkan dalam islam? Untuk itu saya minta saudara sekalian untuk lebih aktif lagi ke masjid. Kita harus bersatu. Islam harus bersatu.” Sebetulnya pidato tersebut lebih panjang dan lebih menyentuh lagi, saya potong karena akan panjang sekali.

Setelah Teuku Imum bicara, ia mempersilahkan Geuchik** untuk menyampaikan apa yang perlu disampaikan. Geuchik ambil posisi. “Yang penting-penting semua sudah disampaikan oleh Teuku Imum tadi. Yang saya sampaikan hanya melanjutkan amanah. Ada instruksi dari pemerintah untuk kita sama-sama menjalankan ronda setiap malam sampai pemilu usai. Kita tidak usah membantah, kerjakan saja. Sekarang yang kita sepakati, siapa yang akan dilibatkan dalam ronda?” Seseorang memberikan usul untuk laki-laki yang sudah Baligh. Kemudian ada warga yang membantah, “Sulit untuk yang masih sekolah. Kasihan mereka.” Terus menerus pendapat mengalir deras dari warga. Dengan bijak, Geuchik ambil alih, merangkum semua usulan, “Baik, jadi yang ikut ronda adalah pria umur 20-50, tapi kalau ada yang di bawah 20 namun tidak sekolah maka dia wajib ikut. Pengaturan selanjutnya tentang pembagian tugas akan digodok oleh tetua 4 dan tetua 8 (semacam DPR dan MPR dalam desa itu). Selanjutnya saya buka agenda dan lain-lain, ada yang ingin dibahas?”

Salah seorang warga mengacungkan jarinya lalu mulai bicara, “Ternak sapi yang suka dilepas entah punya siapa itu suka mengganggu rumah saya (banyak penduduk Aceh yang mempunyai ternak, Aceh terkenal dengan lumbung sapi). Tanaman habis dimakannya. Apa saya boleh tangkap ternak itu lalu saya potong?!!”

Dengan tenang, Geuchik memimpin forum itu untuk membahas kasus ini. Forum sepakat membuat hukum desa untuk masalah ini. Kembali banyak warga yang mengacungkan tangannya lalu mengajukan pendapatnya. Geuchik dengan hormat menampung semua pendapat warga, kemudian membuat kesimpulan lagi, “Kalau ada warga yang merasa dirugikan akibat sapi yang dilepas, maka warga tersebut boleh menangkap lalu mengikatnya di depan rumah. Tunggu sampai pemilik sapi datang. Ada juru hitung yang akan saya tunjuk untuk menghitung kerugian warga yang dirugikan lalu akan dimintakan pada pemilik sapi. Kalau tidak datang, pemilik sapi dikenakan 100 ribu/hari. Sampai angkanya setara dengan harga sapi, maka sapi boleh menjadi milik warga yang dirugikan.”

Selesai membuat kesimpulan, ada yang nyeletuk, “Kalau kambing bagaimana?” Geuchik langsung menjawab, “Akan sama persis dengan hukum sapi yang kita buat tadi.” Ada warga yang masih belum puas, “Kalau ayam atau bebek?” Warga yang lain tergelak dengan pertanyaan tersebut. Geuchik dengan sabar menjawab, “Tentunya itu akan beda kasusnya. Kalau sudah ada warga yang mengeluh tentang ayam dan bebek baru akan kita bahas kemudian bagaimana hukumnya.”

Seorang lagi warga yang masih belum puas, “Kalau warga yang dimakan pekarangannya itu mengikat sapi lalu sapinya mati, tanggung jawab siapa?” Dengan mimic yang sama sekali tidak meremehkan pertanyaan tersebut, Geuchik menjawab, “Sesungguhnya hidup dan mati itu sudah digariskan. Itu sudah ditulis di sana . Hewan ternak pun demikian, sudah ada garisnya. Tidak akan melenceng dari garis yang dibuat oleh pemilik alam ini. Jadi, kalau memang ternak itu mati, maka memang dia seharusnya mati. Bukan menjadi tanggung jawab yang mengikatnya. Namun demikian, kita tidak boleh membuat hal-hal yang dengan sengaja membuat hewan ternak itu mati.”

Dua jam sudah berlalu. Karena tidak ada yang perlu dibahas lagi, maka pertemuan itu ditutup. Warga kembali ke rumahnya masing-masing, tanpa membawa besek. Jangankan besek, segelas air mineral pun tidak ada. Sangat berbeda jauh dengan keadaannya di Jakarta . Pengurus masjid di Jakarta mempunyai aturan wajib yang tidak tertulis bahwa warga yang diundang oleh pengurus masjid harus diberi “bekal” ketika pulang. Tidak jarang, hal itu malah membuat tujuan berubah.

*****

Cerita di atas betul-betul terjadi ketika saya sedang tinggal di rumah nenek di Krueng Mane, sebuah desa kecil di pesisir timur Nangroe Aceh Darussalam. Desa yang tidak mengenal macet. Desa tanpa polusi. Desa dengan penduduknya yang ramah. Desa yang sarat akan gotong royong. Desa dengan aturan islam yang masih dipeluk erat.

Rapat seperti ini sering dilakukan pemimpin-pemimpin di sana untuk membahas sesuatu yang perlu dibahas bersama. Bayangkan, dengan pengumuman yang sangat mendadak, bahkan diiringi nada bicara yang ketus sekalipun, pemerintahan desa Cot Seurani mampu mengumpulkan warganya dalam sekejap. Warga pun tidak merasa dirugikan karena mereka tahu itu untuk kepentingan bersama.

Dalam satu pertemuan, dengan tegas pemimpin agama menasihati warganya. Warga tidak merasa dipojokkan sama sekali. Nasihat itu seperti nasihat ayah kepada anaknya, demi kebaikan si anak. Nasihatnya tegas, tidak mengawang-awang, tidak bertele-tele, namun sangat membekas di hati warga.

Di pertemuan itu juga dibahas keamanan lingkungan, bahkan sempat membuat beberapa hukum yang menghadirkan kata sepakat dari semua warga.

Walaupun punya dua pemimpin sekaligus, tapi tidak ada konflik sedikitpun antar pemimpin itu. Mereka saling mengisi dan saling menghormati. Saya tahu, sebetulnya inti dari pertemuan itu adalah sosialisasi ronda, tapi Geuchik dengan rasa hormatnya yang tinggi kepada Teuku Imum , ia mengatakan bahwa yang penting adalah mengedepankan agama, ronda hanya masalah sepele.

Mimpi besar kita bersama untuk membuat Indonesia secara agregat memiliki jiwa demokrasi yang betul-betul sesuai dengan makna demokrasi, dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.

*Teuku Imum: pemimpin agama dalam sebuah desa. Ada dua pemimpin dalam satu desa di Aceh, keduanya selalu berjalan beriringan.
**Geuchik: pemimpin dalam garis pemerintahan, setara Kepala Desa.

source: seorang teman ^^

Praktikan..

Thursday, 5 March 2009

hari ini..

ngisi praktikum bareng temen2 seangkatan..

bareng dika n auriza tepatnya.. imba.. ^^

praktikannya temen2 seangkatan juga..

n yang unik, ada mahasiswa S2 juga..

nah, ada sbuah crita..

tadi dika yang ngasi materinya..

biasanya..

kalo ada praktikan yg berisik, tuw orang pasti langsung disuruh ke depan ama si dika..

disuruh ngejalasin yg tadinya diomongin.. ckckck..

tapi..

b’hub yg berisik anak S2-nya, si dika kalem aja..

wkwkwk.. jadi ngekeh2 liatin dia ’salting’ karna dicuekin.. :P

dah gitu, tadi pak t***, yg juga praktikan menghilang slama 1 jam praktikum..

nah, kalo biasanya tuw pasti langsung diinterogasi klo da yg gitu..

skali lagi, b’hub g enakan.. jadi ya.. dibiarin aja.. wkwkwkw..

trus, selese praktikum crita2..


dika: apa qita nangis aja di depan klo mereka berisik lagi ya?
uud: truz?
dika: iya, trus ntar mereka nanya tuw, kenapa mas? truz qta jawab, abis bapak berisik sie saya lagi nerangin, kan saya jadi g konsen pak. truz, saya g enak juga negurnya, abis takut bapak tersinggung pak
uud: iy klo ditanyain. klo qta-nya nangis trus tetap brisik n dicuekin juga? wkwkwk..

dan percakpaan berlanjut ngalur-ngidul kembali.. :P

nah, jadi intinya.. crita ini dibuat hanya iseng belaka. tanpa b’maxud untuk menyindir apa lagi menyakiti orang lain. :)

truz kesimpulan di samping inti di atas adalah: asyiik.. pengalaman baru.. :) insyaAllah minggu depan giliranQu.. ^^

peace dika.. ^^

NB: crita di atas m’alami hiperbola setidakbagaimana mestinya.. :P

Aaaaaaaaaaaaaarrgggg….. [updated]

Saturday, 13 December 2008

Kamis malam (11 Desember 2008),  dompetqu jatuh/hilang.

Tempat yang dicurigakan jatuh/hilang:

  • Sepanjang jalan bara – balebak, tepatnya dari radar (kosan harmony) sampe kosan biru
  • Pondok Aa (kamar Nizar n Decil)
  • Kosan Biru (kamar Nano n Damz)

Dua poin t’akhir udah diceck n g ada disitu, so kemungkinan besar jatuh/ilang di poing no. 1, yaps, di jalan. Hixhix… :(

Isi di dalam dompet:

  • Beberapa kartu yg amat sangat penting (atm/ktm, sim, ktp, cc, n alamin card)
  • Beberapa rupiah
  • Beberapa ringgit
  • Beberapa foto

Bagi yang menemukan, please just call me at (uud9[at]yahoo[dot]com). I’m realy deeply hope my wallet out there will be found by someone kindly n he/she is reading this post now. Thanks you. :)

[update]

Alahamdulillah malam ini (Minggu, 14 Desember 2008) dompetku kembali. Ternyata tu dompet jatuh di bara n ditemukan oleh seseorang. :)

Huuf… masalahnya sekarang adalah, m’aktifkan semua yg telah di-nonaktifkan. Gpp de, yg penting dah ketemu dah cukup. Semangat!! :)

IPB – intermezo

Thursday, 4 December 2008

Tadi siang (4-12-2008), pulang kul Pemrosesan Paralel ngeliat tulisan di baju pejalan kaki yang isinya kira-kira begini:

“Banyak yang bilang lulusan IPB itu bisa kerja/ahli di segala bidang kecuali pertanian. ITU SALAH BESAR. Seharusnya, kemana lulusan non-pertanian sampai lulusan IPB harus turus tangan?”

waktu baca tu tulisan, dalam hati kuberkata: “Wkwkwkwk, bener juga sie..”

# narsis mode (on)#

☺ peace ☺

Ana dan Ani

Thursday, 18 September 2008

Seperti yang sering mereka lakukan, malam itu dua sahabat wanita Ana dan Ani pergi bersenang-senang berdua saja tanpa membawa serta suami mereka. Mereka pergi ke sebuah pub dan kebetulan di sana ada acara seru. Mereka begitu menikmati malam itu sampai akhirnye mereka teler kebanyakan minum. Ketika pulang larut malam, keduanya merasakan dorongan untuk buang air. Si Ana lalu mengajak singgah di kuburan yang mereka lewati. Dasar mabuk berat mereka tidak punya rasa takut sama sekali.

Begitulah mereka melakukan hajatnya di balik nisan-nisan kuburan itu. Ana tidak punya apa-apa untuk mengelap, jadi dia lap saja pakai CDnya lantas dibuangnya di sana. Tapi si Ani kebetulan mengenakan CD berharga mahal jadi dia enggan menggunakannya. Setelah meraba-raba di sekitar makam, dia menemukan penggantinya, sehelai pita besar dari atas salah satu makam. Kelihatannya pita itu bagian dari rangkaian bunga yang tadi siang ditaruh di atas makam itu. Sesudahnya merekapun pulang.

Besoknya suami Ana menelepon suami Ani dan berkata, “Kita mesti hentikan acara senang-senang kedua cewek ini!. Coba bayangin, tadi malam istriku pulang tanpa pake celana dalam!”

“Itu belum apa-apa Bro!”, jawab suami Ani. “Istriku pulang dengan sehelai kartu ucapan di celah bokongnya, dan disana ada tulisan: “Dari seluruh penghuni asrama Prajurit. Kenangan indah bersamamu tidak akan pernah kami lupakan”.

source: web-nya P’ Julio

Saat air laut naik ke daratan, juara renang dan juara lari bisa saja tidak selamat. Dia digulung ombak lalu digilas dan ditarik ke laut. Justru yang selamat itu, wanita lemah dan anak-anak, walau mereka luka-luka dan patah tulang.
Sebelum tsunami, sebagian laki-laki sudah duluan ke luar rumah, mungkin ke pasar atau tempat kerja. Di rumah rata-rata tinggal perempuan, orang tua, dan anak-anak yang libur sekolahan. Perempuan masih dengan pakaian tidur dan baju dapur seadanya.

Laki-laki yang tak kerja masih dengan kain sarungnya. Begitu air tiba-tiba menyapa, yang membuat panik warga desa dan kota, banyak laki-laki yang selamat dalam pelarian itu, atau memang sudah sangat menjarak dari tempat kejadian. Yang paling banyak selamat juga anak-anak, di samping yang hilang. Masya Allah.

Sakit dan gelisah
Saat azan dhuhur berkumandang di mushalla atau masjid, anak sekolah pun pulang ke rumah atau barak. Sering tiba ke rumah lebih telat lagi. Biasa saat waktu shalat sedang ditunaikan, anak masih berkutat dengan buku paket yang baku itu, terutama sebelum tsunami. Tapi tetap sama saja, usai tsunami. Sehingga pukul dua siang, anak masih belum beranjak dari bangku belajar, sekolah rakyat atau tenda darurat. Kakak dan abang mereka, dari kelas mahasiswa, juga pulang. Read the rest of this entry »