Saat air laut naik ke daratan, juara renang dan juara lari bisa saja tidak selamat. Dia digulung ombak lalu digilas dan ditarik ke laut. Justru yang selamat itu, wanita lemah dan anak-anak, walau mereka luka-luka dan patah tulang.
Sebelum tsunami, sebagian laki-laki sudah duluan ke luar rumah, mungkin ke pasar atau tempat kerja. Di rumah rata-rata tinggal perempuan, orang tua, dan anak-anak yang libur sekolahan. Perempuan masih dengan pakaian tidur dan baju dapur seadanya.
Laki-laki yang tak kerja masih dengan kain sarungnya. Begitu air tiba-tiba menyapa, yang membuat panik warga desa dan kota, banyak laki-laki yang selamat dalam pelarian itu, atau memang sudah sangat menjarak dari tempat kejadian. Yang paling banyak selamat juga anak-anak, di samping yang hilang. Masya Allah.
Sakit dan gelisah
Saat azan dhuhur berkumandang di mushalla atau masjid, anak sekolah pun pulang ke rumah atau barak. Sering tiba ke rumah lebih telat lagi. Biasa saat waktu shalat sedang ditunaikan, anak masih berkutat dengan buku paket yang baku itu, terutama sebelum tsunami. Tapi tetap sama saja, usai tsunami. Sehingga pukul dua siang, anak masih belum beranjak dari bangku belajar, sekolah rakyat atau tenda darurat. Kakak dan abang mereka, dari kelas mahasiswa, juga pulang.
Atau mereka berdua-duaan sudah keluar kampus, namun belum sampai ke rumah. Orangtua mereka yang bekerja tetap atau serabutan juga telah kembali. Atau karena sibuk sekali, mereka juga belum pulang sama sekali, mungkin hingga malam nanti.
Sebagian siswa Aceh, juga mahasiswa dan sarjana, atau anak putus sekolah, tak paham lagi bahwa azan itu untuk shalat.
Sehingga jika datang waktu shalat atau ia telah lewat, sama saja. Generasi muda Islam yang tak sempat kita bina, rata-rata membunuh waktu dengan foya-foya. Ini memang akan dibantah oleh ayah yang sok rasional; menganggap belajar, bekerja, dan enjoy itu sama dengan gerak-gerik formalitas shalat. Memang bisa saja memaknai jihad ––usaha sunguh-sungguh membela agama Allah dengan jiwa, raga, harta, ilmu, dan jalur politik–– atau ibadah itu dengan macam-macam aktivitas. Namun tentu tidak dengan mengabaikan ritual rohani seperti amalan salafi dan jalan para nabi.
Kita padahal diajarkan, bahwa generasi Islam yang pandai yang telah menggenggam dunia dulu adalah pelajar dan sarjana yang tawadhu‘. Tanpa menantang perintah Tuhan. Tanpa pula harus selalu merasionalkan syariat. Kemudian memilah dan memilih mana yang rasional terus ia laksanakan. Dan mana yang tak masuk akal lalu ragu dan mempertanyakan ulang.
Sebab, secara kasat mata masyarakat kita sekarang sedang sakit dan gelisah. Secara kejiwaan kita sudah gila dengan kadar masing-masing. Mungkin itu gila pada tahta, pria, wanita, harta, logika, atau kata-kata. Terkadang saudara kita yang berada di balik jeruji rumah sakit jiwa itu wajar bertanya mana yang waras, “Mereka yang di sana yang ramai, atau kita yang di sini yang sedikit?” Jawab psikolog dari luar, “Kenapa saudara kalian tidak dimasukkan ke rumah sakit jiwa? Lantaran rumah sakit ini sempit.”
Intelektual dan kaum terpelajar, sayang sekali, telah dibiayai dengan mahal lewat uang hibah, pinjaman, atau utang, namun gersang batin. Gaya dan perangai kita terkadang tak berbeda dengan salibi dan jahili. Karena terkadang lebih hormat tamu dari luar Islam terhadap syiar agama kita, daripada kita yang telah mengaku muslim.
Jika demikian realitasnya, kenapa memelihara, tanpa pembinaan, oknum generasi muda kita di Aceh yang pandai-pandai, tetapi tanpa Tuhan? Anak-anak kita mungkin pandai intelektualitas, tapi bodoh spiritualitas. Juga emosionalnya. Jika kaum terpelajar sudah demikian menusuk hati ini, konon lagi mereka yang tak sempat menikmati bangku sekolah dan kuliah.
Selama belajar atau tidak, siswa dan mahasiswa, atau penganggur, bingung dan bertanya-tanya, suara apa yang serak sengau (bahasa Aceh: meu ’ep ’ep) di luar, di atas menara masjid itu. Sebab mereka, anak-anak kita, sedang belajar ilmu pengetahuan: ilmu pasti dan ilmu sosial. Sebab anak-anak kita sedang sibuk belajar atau duduk-duduk manis, tak mau diganggu.
Kesuksesan yang menurut sebagian orangtua dan mahasiswa kita: setelah menyelesaikan kuliah, dapat kerja (baca: pegawai negeri), kawin, punya satu-dua anak, seterusnya memiliki kenderaaan, dan rumah sendiri. Kemudian pensiun dini atau pensiun dengan enak. Mata uang sebuah kesuksesan, ya uang itu sendiri. Bukan lagi mata uang kejujuran dan ketulusan. Yang terakhir itu sisi satu mata uang yang sukses di dunia dan akhirat.
Tuhan dan ayah
Sesampai di rumah, anak-anak yang sangat keletihan, karena memikul tas atas bahu yang penuh buku dan minuman setiap hari (gantian sport), disapa sang mama dengan segenap perhatian.
“Selesai makan, istirahat. Jangan ke mana-mana dulu!” ingat ibu sambil membantu menaruh sepatu di raknya. Persoalan shalat zhuhur sudah atau belum, tak penting lagi. Yang penting makan, istirahat, lalu pada sore nanti main-main lagi. Sebab anak ibu lelah sekali sejak dari sekolah, dalam menghafal rumus dan teori dari buku paket, berjilid satu hingga tiga, beredisi revisi setiap empat bulan (cawu) atau satu semesteran.
Jika ustadz dan ustadzah bertanya, “Kenapa kemarin tidak ngaji?” Dengan gagahnya si murid menjawab, “Ada les ustadz.” Atau jawabnya, “Ada PR ustadzah.” Padahal mengaji setengah, satu, atau satu setengah jam di mushalla dan masjid itu, jauh lebih penting daripada pekerjaan rumah.
Ayah sebagian anak-anak kita ini, sebenarnya bukan bapaknya lagi, melainkan televisi yang di tengah rumah atau di kamar tidur itu. TV dengan berbagai chanel itu, ayah mereka. TV dan perangkat lainnya itu sembahan mereka. Tuhan bukan lagi Allah yang dibisikkan saat bayi-bayi di Aceh lahir (kalau sempat diazankan), tetapi bintang-bintang film. Sama saja di tingkat lokal, dalam negeri, atau mananegara.
Bukan Tuhan yang diajarkan di balai-balai, di saat orangtua kita mengaji dulu. Tuhan kita sering bergantian, dari Dia Yang Maha Kuasa menjadi pemain bola yang kafir itu. Masjid yang disuruh makmurkan telah kita gadaikan dengan stadion yang menyesakkan itu. Shaf-shaf shalat telah kita tukar dengan meja di warung kopi.
Atau meja joker dan domino. Zikir telah kita ganti dengan cakap-cakap syahwati dan birahi. Mungkin semua mengatasnamakan, “Mencari nafkah,” Semua mungkin berdalih bahwa, “Ini juga ibadah.” Tentu ibadah yang salah kaprah.
Di rumah, anak bagaikan robot menanti aba-aba media.
TV hidup 24 jam, volumenya tak kalah dengan azan dan ceramah di meunasah dan masjid. Kata dan gaya artis jahat ditirunya. Rambut, baju, dan rok, diminikan. Idola dipuja-puji dan lagunya dihafal betul hingga titik koma. Hebatnya lagi ayahnya mengganti nama adiknya seperti di TV, bukan nama khas Aceh yang islami.
Rotan
Di rumah anak dan remaja kita tak jauh berbeda dengan hewan ternak atau perabot. Anak-anak menjadi sosok pajangan di depan ibu, bapak, dan saudaranya. Dia bagaikan benda mati yang tak kreatif berpikir, namun disumbal dengan jadwal. “Jika anak tak bisa menggunakan pikirannya, kelak dia akan menggunakan otaknya untuk menutupi kelemahannya,” kata seorang pakar anak. Dia punya menu dan jadwal melebihi kesibukan mahasiswa zaman dulu.
Les-les untuk anak ada untuk komputer dan bahasa asing, serta renang dan senam. Jika dia di rumah pun hanya sebentar, sekadar mandi, ganti celana, dan makan. Waktu tersisa untuk main-main di halaman dan nonton televisi, atau tertawa ria. Persoalan sudah shalat, ada ngaji atau tidak, itu urusan orangtua yang akan meninggal.
Memang sekarang sulit menemukan rotan di rumah kita untuk mendera anak agar tak lupa shalat, sebagaimana pesan Rasulullah SAW. Sebab kita berdalih, hidup sudah modern, tak pantas anak dipukul. Sebab itu termasuk wilayah hak asasi. Padahal yang meninggal dalam musibah gempa dan tsunami itu ribuan dari anak-anak dan remaja. Sebagian korban itu barangkali belum sempurna shalatnya (juga subuh 26 Desember 2004).
Padahal yang membedakan anak Islam dengan anak kafir itu adalah pada shalat dan tidak shalat.
“Anakku, muridku, dalam merenungi makna ’ulang tahun‘ shalatlah. Jangan lalaikan shalat anakku, walau satu waktupun.”
*) Direktur TPQ Plus Baiturrahman Banda Aceh.
source: http://www.serambinews.com
ocxie said,
Wednesday, 27 August 2008 at 22:55
sungguh terharu saya membaca kutipan tulisan yang kamu tampilkan…!!
Andai saja pesan ini berlaku bagi semua anak…
pasti banyak lah mereka yang akan masuk syurga dan menyelamtakan kedua orang tua nya di hari akhir kelak!!
salam kenal dari saya…ocxie
ÙüÐ said,
Thursday, 28 August 2008 at 16:27
^
amiin.. semoga bukan cuma andai2.. ^_^
salam kenal juga oxcie..
Nugraha Fadhil said,
Saturday, 27 September 2008 at 12:47
Tulisan yang mencerahkan
ah, kiamat sudah dekat, semoga kita diberi keteguhan iman oleh Allah hingga akhir hayat, Amiin.
Salam kenal dari saya, Fadhil
ÙüÐ said,
Monday, 6 October 2008 at 21:35
@Fadhil: Amiin.. salam kenal juga. namaqu Uud.. ^_^
awisawisan said,
Wednesday, 18 February 2009 at 1:36
anaknya uda berapa bang??
ÙüÐ said,
Wednesday, 18 February 2009 at 1:38
baru dua bu..